Published 27 Juli 2026 in EducationTechnology
Apa yang Kami Pelajari dari SMP Katolik Mardi Wiyata Malang tentang Pendidikan
Team Dayadidik

Minggu lalu Dayadidik berkesempatan mengunjungi SMP Katolik Mardi Wiyata Malang dan percakapan yang terjadi tidak hanya soal aplikasi. Mereka bercerita tentang bagaimana sekolah, guru, orang tua, dan murid bisa benar-benar berjalan bersama. Bukan sekadar saling melaporkan, tapi saling mengenal dan mengarahkan.
SMP Katolik Mardi Wiyata Malang sudah lama percaya bahwa nilai bukan satu-satunya ukuran. Mereka aktif membuka ruang tumbuh dari dalam dan dari luar sekolah, karena mereka tahu setiap anak punya bakat dan minat yang layak ditemukan.
Dalam diskusi kami, Frater Daniel juga menekankan bahwa kehadiran murid merupakan fondasi penting dalam proses pendidikan. Bagi beliau, anak yang hadir secara konsisten memiliki peluang lebih besar untuk bertumbuh, sehingga sistem seharusnya tidak hanya mencatat absensi, tetapi juga membantu sekolah melihat pola kehadiran sejak dini agar setiap murid mendapatkan perhatian yang tepat.
Frater Daniel percaya bahwa setiap hari seorang murid hadir di sekolah adalah kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan membangun karakter. Karena itu, sistem digital seharusnya tidak berhenti pada pencatatan kehadiran, tetapi menjadi alat yang menghubungkan sekolah dan orang tua untuk memastikan tidak ada anak yang luput dari perhatian.
Di situlah kami menemukan kesamaan.
Karena itulah Daya Didik ada, bukan hanya untuk mencatat perkembangan anak, tapi untuk menghubungkan semua pihak yang peduli pada tumbuh kembangnya dalam satu ekosistem yang saling mengenal.
Terima kasih SMP Katolik Mardi Wiyata Malang, atas diskusi yang hangat dan bermakna.


